RSS

Metamorfosa Ramadhan

24 Sep

Siapa tak suka kupu-kupu? Mahluk ciptaan Alloh swt yang satu ini memang luar biasa indahnya. Selain itu juga secara metamorfosis, kupu-kupu benar-benar mengajarkan proses “puasa” yang sempurna kepada kita, manusia, golongan yang berpikir.

Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana seekor hewan secara fisik mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas yang melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel. Salah satu hewan yang mengalami metomorfosis adalah kupu-kupu.

Kupu-kupu mengalami tahapan yang lebih panjang (ketimbang hewan lainnya) sebelum menjadi kupu-kupu dewasa. Pertama kali, kupu-kupu yang indah dan anggun akan bertelur. Telur kupu-kupu bisanya akan menempel di dedaunan. Telur inilah kemudian yang menjadi ulat. Sesosok makhluk pengrusak yang keberadaannya sangat menjijikkan. Setelah ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong (pupa atau chrysalis). Di dalam pupa, cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Tidak berapa lama kemudian menjadi kupu-kupu dewasa.

Perjalanan metamorfosis Kupu-kupu dapat kita ambil hikmah sebagai proses perjalanan hidup manusia di dunia. Sebagai mana kupu-kupu yang terlahir menjadi sebutir telur, mausia terlahir dalam kondisi suci tanpa dosa.

Fase Metamorfosis

Fase ulat yang serakah dan menjijikan merupakan representasi dari perilaku manusia dalam perjalanan hidupnya. Segala perilaku buruk dan melanggar norma-norma baik hukum maupun agama seringkali dilakukan oleh manusia. Keadaan ini dapat dilihat dari tingginya angka kriminal, kasus korupsi, kemiskinan yang semakin meningkat, sampai kerusakan lingkungan yang tentunya salah satu merupakan andil dari perilaku diri kita sendiri yang serakah. Semua perilaku yang buruk tentunya harus dirubah.

Fase metamorfosis selanjutnya adalah kepompong. Fase kepompong merupakan analogi dari bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadan setiap umat Islam dapat berkontemplasi mengenai perilaku buruk apa yang telah dilakukan serta akibat yang ditimbulkannya. Keserakahan dalam mengeksploitasi kekayaan alam dan lingkungan hidup, mengakibatkan gundulnya hutan yang mendatangkan bencana banjir dan tanah longsong. Juga berbagai aktifitas lain yang pada akhirnya mendatangkan kerugian pada manusia seperti pemanasan global, pencemaran tanah, udara dan air.

Pada bulan Ramadan kita meninggalkan berbagai keserakahan yang biasa kita perbuat dengan mengerjakan ibadah shaum yaitu menahan makan dan minum serta menahan hawa nafsu. Kita tundukkan diri untuk mengakui dan memohon ampun atas berbagai kesalahan yang telah diperbuat selama ini. Di samping itu berbagai perilaku baik dan ibadah yang mendatangkan pahala mesti kita kerjakan sekuat tenaga.

Proses metamorfosis dalam kehidupan manusia merupakan proses mengubah diri, meningkatkan kualitas menjadi Insan mulia, yang beriman dan bertaqwa. Setiap saat sebetulnya kita bisa melakukan perubahan dan perbaikan. Namun Alloh Maha kasih dan sayang pada ummat-Nya. Disediakan-Nya satu bulan penuh bagi kita untuk memperbaiki diri dimana setan dibelenggu dan amalan dilipatgandakan. Dan tentunya kita bukanlah ulat yang baru memberikan manfaat setelah menjadi kupu-kupu. Puasanya kita merupakan sarana perbaikan dan sekaligus latihan beramal. Dalam puasa kita tidaklah bertapa, tapi ladang amal yang luar biasa, yang didalamnya terdapat amalan sunah yang dinilai dengan amalan wajib dan amalan wajib pahalanya dilipat gandakan. Bahkan pahala puasanya sendiri Alloh langsung yang akan menilai dengan kehendak-Nya.
Metamorfosis Ramadhan memang luar biasa, sebuah fasilitas dari Alloh untuk ummat-Nya. Ibarat orang yang akan bertanding, Ramadhan adalah sarana melatih diri untuk menjadi juara. Namanya juga porsi latihan, menu dan latihannya harus sempurna sehingga bisa pantas menjadi juara. Menunya adalah puasa, sholat, zakat, infak dan sedekah, pengetahuan agama, tarawih, qiyamullail dan I’tikaf. Latihannya adalah keikhlasan, kesabaran, ketaatan, kepedulian dan kedermawanan.

Ibarat larva yang menjelma kupu-kupu, demikian juga dengan manusia. Setelah sebulan berada di dalam kepompong Ramadan, sampailah kepada idul fitri. Maklumat dari puncak metamorfosis yang mengembalikan sosok ulat menjijikkan menjadi seekor kupu-kupu nan indah. Dan ini yang perlu digaris bawahi, kemenangan manusia menggapai idul fitri bukanlah akhir dari perubahan sikap yang harus dilakukan. Hal ini disebabkan karena setiap saat perilaku manusia selalu dituntut untuk berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan perilaku ini sesuai dengan keterangan yang menyebutkan bahwa seseorang dikatakan beruntung adalah manusia yang perilaku hari ini lebih baik dibandingkan dengan perilaku kemarin dan perilaku besok lebih baik dibadingkan hari ini.

Kapan metamofosisnya dikatakan berhasil?

Pertama: Bila tampak kesungguhan yang dilakukan selama latihan di bulan Ramadhan. Dimana keikhlasan, kesabaran dan ketaatannya meningkat. Demikian juga dengan kepedulian kepada orang-orang membutuhkan uluran tangan serta kedermawanan yang tumbuh tanpa diminta.
Kedua: Bila setelah ramadhan hasil latihannya berbekas sempurna bagai sang juara. Karena hakikat pertandingan adalah 11 bulan paska Ramadhan dimana tidak ada fasilitas khusus. Sebagaimana kupu-kupu yang semakin cantik dan bermanfaat setelah keluar dari kepompong kehidupan.

Menjadi insan mulia dengan pribadi yang indah, aktivitas yang menawan dan memberi manfaat adalah ciri metamorfosis Ramadhan yang berhasil. Ingatlah! di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Berjuta mata mengharap kehadiran dengan senyum dan kepedulian kita. Berjuta hati mengharap ketulusan dan kemurnian amal sosial kita. Mari ambil bagian dalam parade kemanusiaan yang tak pernah putus, sambung-menyambung sampai tidak ada lagi air mata yang tumpah dan tidak ada lagi jiwa-jiwa yang merana dalam duka.

Mungkin…. metamorfosis kita kali ini belum menjadikan kita sebagai kupu-kupu yang terindah. Tetapi berbeda dengan kupu-kupu, bukankah kita diberikan kesempatan untuk bermetamorfosis setiap tahun?
Semoga tahun depan kita masih dapat bermetamorfosis, tentunya dengan hasil yang lebih baik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 September 2010 in Artikel

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: