RSS

Pemuda dan Perjuangan

24 Sep

Para pemuda memang sering menjadi pelopor perubahan. Pemuda juga merupakan salah satu pilar peradaban yang sangat penting. Islam mengakui posisi kaum muda yang sangat strategis. Usia muda, menurut Al-Qur’an, merupakan usia yang penuh kekuatan, usia yang terletak di antara dua fase kelemahan. Al-Qur’an melukiskannya dengan sangat indah:

“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS 30: 54)

Al-Qur’an juga bercerita tentang para pemuda Ashabul Kahfi yang melarikan diri dari kaumnya demi mempertahankan keimanan mereka dan kemudian ditidurkan Alloh selama 300 tahun di dalam sebuah gua. Mereka ini disebut oleh Al-Qur’an sebagai pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhannya (fityatun āmanu birabbihim). Mereka bukan hanya beriman kepada Tuhan mereka, tapi juga menjadi tanda-tanda zaman yang luar biasa dan kisah mereka diabadikan di dalam Kitab Suci.

Sejak Risalah Nabi Muhammad sholallohu ’alaihi wasallam, sejarah Islam juga banyak diisi dengan sepak terjang kaum muda yang berprestasi. Rosululloh sholallohu ’alaihi wasallam sendiri diangkat menjadi nabi pada puncak usia kepemudaan, yaitu usia empat puluh tahun. Sebagian besar Sahabat yang mengikuti beliau berusia kurang dari usia beliau sholallohu ’alaihi wasallam, bahkan ada sebagian yang menyambut Islam di usia yang sangat belia.

Di antara yang paling awal menyambut seruan Nabi sholallohu ’alaihi wasallam, yaitu Ali ibn Abi Thalib. Ketika itu umurnya baru sekitar sepuluh tahun. Semula ia ragu menerima Islam dan hendak bermusyawarah dulu dengan ayahnya, Abu Thalib. Namun keesokan harinya ia mendatangi Nabi sholallohu ’alaihi wasallam dan menyatakan masuk Islam. Ketika ditanya apakah ia memberitahu ayahnya, Ali yang masih sangat belia menjawab mantap, ”Alloh menciptakan saya tanpa bermusyawarah dengan ayah saya, maka mengapa saya harus bermusyawarah dengan ayah saya untuk menyembah-Nya?”

Pada akhir masa kenabian, yang ditunjuk memimpin pasukan besar untuk menghadapi Romawi juga seorang remaja. Dia adalah Usamah ibn Zaid, anak dari anak angkat kesayangan Nabi sholallohu ’alaihi wasallam, Zaid ibn Haritsah. Ketika ditunjuk sebagai pemimpin pasukan perang umurnya masih belasan tahun.

Prestasi para pemuda lainnya juga bertebaran di sepanjang sejarah Islam. Salahuddin al-Ayyubi bergabung dalam pasukan Nuruddin Zanki ketika usianya masih empat belas tahun. Pada tahun 1164, ketika umurnya masih dua puluh enam tahun, Salahuddin menemani pamannya melakukan ekspedisi ke Mesir yang ketika itu masih dipimpin oleh Dinasti Fatimiyah yang menganut Syiah Ismailiyah. Ekspedisi ini berlangsung selama beberapa kali hingga akhirnya berhasil menaklukkan negeri tersebut pada tahun 1169.

Hanya dua bulan setelah menguasai Mesir, Salahuddin menggantikan posisi pamannya, Shirkuh, yang meninggal dunia tak lama setelah menaklukkan negeri itu. Usianya ketika itu baru tiga puluh satu tahun. Secara bertahap ia mengubah Mesir menjadi Sunni. Dan setelah beberapa ratus tahun terpecah dalam dua kekhalifahan, dunia Islam kembali bersatu di bawah naungan Khalifah di Baghdad.

Muhammad al-Fatih merupakan contoh pemuda lain yang bisa kita angkat di sini. Ia diangkat menjadi Sultan Turki Utsmani, menggantikan ayahnya yang meninggal dunia, pada tahun 1451. Dua tahun kemudian, ketika usianya baru sekitar dua puluh satu atau dua puluh tiga tahun, Sultan Muhammad berhasil menaklukkan Konstantinopel. Kota ini merupakan salah satu kota paling strategis di dunia dan merupakan ibukota Byzantium dan kepausan Kristen Ortodoks.

Nabi sholallohu ’alaihi wasallam telah meramalkan kejatuhan kota ini ke tangan Islam dan selama delapan abad kaum Muslimin berusaha memenuhi nubuwat Nabi ini tapi selalu gagal karena kokohnya benteng kota tersebut. Barulah pada tahun 1453 kota itu berhasil ditaklukkan oleh seorang pemuda yang usianya belum sampai dua puluh lima tahun. Sejak saat itu hingga sekarang ini kota tersebut menjadi pusat peradaban Islam yang penting dan namanya berganti menjadi Istanbul.

Prestasi para pemuda Islam tidak hanya diwakili oleh para sultan dan penakluk saja, tapi juga oleh para ulama. Imam Shafi’i sudah hafal Al-Qur’an dan kitab al-Muwatha’ ketika usianya masih belasan tahun. Imam Ghazali sudah menjadi Rektor Universitas Nizamiyya ketika usianya baru tiga puluh tiga tahun. Kita juga pernah mendengar kisah Abdul Qadil al-Jailani yang membuat sekumpulan perampok bertaubat karena sebab kejujurannya, padahal usianya ketika itu masih belasan tahun. Ada banyak para ulama lainnya yang sudah memiliki prestasi gemilang di usia mereka yang masih muda.

Di abad dua puluh ini kita juga menemukan banyak pemuda Islam yang membawa semangat baru bagi umat yang sedang terpuruk. Hasan al-Banna (1906-1949) telah hafal Al-Qur’an pada awal masa remaja dan beliau mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 1928 ketika umurnya baru dua puluh dua tahun. Organisasi ini berkembang hingga ke hari ini, menyebar di puluhan negara, dan disebut-sebut sebagai organisasi Islam internasional terbesar di dunia. Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977), pendiri Hizb al-Tahrir, telah hafal Al-Qur’an pada awal usia belasan tahun. Beliau aktif mengajar dan terjun di dunia pergerakan Islam sejak usia yang masih sangat muda.

Said Nursi (1878-1960), seorang ulama dan sufi asal Kurdi, adalah contoh pemuda luar biasa lainnya. Beliau telah menguasai berbagai ilmu dasar Islam sejak usia belia. Ia juga memiliki kemampuan menyerap pelajaran secara otodidak dan sangat cepat. Pemahamannya yang sangat dalam dan kemampuannya yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah, di samping keberaniannya yang sangat luar biasa, telah menyebabkan ia digelari badiuzzaman (the wonder of the age) sejak usia yang masih sangat muda.

Abul A’la al-Maududi (1903-1979) di Pakistan telah menjadi jurnalis di usia lima belas tahun dan telah memimpin sebuah harian di usia tujuh belas tahun. Sebagaimana Said Nursi, pendiri dan pemimpin Jama’at-i-Islami ini merupakan seorang yang sangat cerdas dan memiliki kemampuan otodidak dalam belajar. Beliau merupakan salah satu pemikir Muslim terpenting pada abad ke-20.

Indonesia juga mengenal banyak pemuda yang brilian. Muhammad Natsir (1908-1993) telah aktif dalam pergerakan Islam di tanah air dan terlibat dalam polemik dengan kalangan nasionalis sejak berusia belasan dan dua puluhan tahun. Beliau menjadi menteri kabinet sebelum genap berusia empat puluh tahun. HOS Tjokroaminoto (1882-1934) telah menjadi pemimpin Sarekat Islam ketika usianya baru menginjak tiga puluh tahun. Organisasi ini merupakan organisasi politik yang terbesar jumlah anggotanya pada masa pergerakan, sekaligus yang pertama bersifat nasional. Rapat-rapat umumnya sepanjang tahun 1910-an telah membangkitkan semangat rakyat dan membuat Belanda merasa ketar-ketir.

Terlalu banyak peranan pemuda yang terdapat di sepanjang perjalanan sejarah, baik dari kalangan Muslim maupun selainnya. Kepemudaan memang selalu diperlukan bagi perubahan dan sebagai kekuatan pendorong yang penting. Kendati demikian, muda tidak selalu identik dengan prestasi. Bersama dengan potensi besar yang dimilikinya, pemuda juga cenderung tergesa-gesa, terlalu bersemangat, dan lebih mudah terjatuh pada godaan duniawi. Selain itu, apresiasi terhadap peranan pemuda jangan sampai mengabaikan jasa-jasa generasi tua. Karena tanpa pertimbangan cermat serta bimbingan orang tua, generasi muda akan lebih mudah terjatuh dan salah dalam melangkah.

Walaupun sejarah sering memperlihatkan ketegangan di antara dua generasi ini, yaitu kaum muda dan kaum tua, kita sebetulnya memerlukan kedua-duanya. Perjuangan akan menjadi lebih berbobot dan berhasil ketika kualitas yang dimiliki masing-masing generasi ini disatukan. Akhirnya, seperti yang dikatakan oleh sebuah ungkapan, kita memerlukan hamasatusy syabab wa hikmatusy syuyukh, kita memerlukan semangatnya para pemuda dan kebijaksanaannya generasi tua.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 24 September 2010 in Artikel

 

One response to “Pemuda dan Perjuangan

  1. ismat

    6 Agustus 2011 at 10:28

    the next generation.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: