RSS

Belajarlah dari Sejarah

26 Okt

Bagi seorang pengendara motor, semestinya kaca spion merupakan asesoris yang penting sekali untuk dimiliki. Karena dengan menggunakannya kita dapat melihat kondisi jalan di belakang untuk terus berjalan maju ke depan. Tidak sedikit orang yang celaka karena tidak memperhatikan kondisi dibelakangnya dan tidak sedikit juga orang yang memiliki kaca spion, namun hanya dijadikan sebagai asesoris penghias motor saja. Kaca spion ini merupakan salah satu gambaran yang baik untuk kita renungkan dan kita sikapi dalam menjalankan kehidupan di dunia yang fana ini. Jangan sampai kita celaka dan terjatuh karena tidak memperhatikannya.
Alangkah baiknya ketika kita menjalankan kehidupan ini sesekali kita tengok kebelakang, kita ingat kembali kehidupan kita sebelumnya, kita ingat lagi peristiwa yang pernah kita lalui, kemudian jadikan itu sebagai bahan evaluasi bagi kita, bahan muhasabah diri, dengan harapan hari esok akan lebih baik.

Dalam suatu kisah, seorang bijak berkata “ Janganlah lupa kita melihat kebelakang saat berada di posisi depan “. Ucapan orang bijak ini seakan-akan mengajak kita agar senantiasa maju dengan melihat pada pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami sendiri sebagai pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain, karena dengan itu lah kita belajar dan terus belajar dalam upaya menjadikan hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Dalam sebuah hadits juga dikatakan, Rasulullah menganjurkan pada kita sebagai ummatnya untuk tidak jatuh pada lubang yang sama. Artinya kita harus benar-benar teliti dalam meniti dan cerdas dalam bertindak sehingga ketika kita dihadapkan dengan suatu kondisi yang sebelumnya pernah kita alami atau orang lain alami, kita dapat menyikapi permasalahan tersebut dan menyelesaikannya dengan baik. Bahkan dalam Al-Quran sendiri Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 111, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Betapa indahnya Allah mengajarkan hamba-Nya dengan kisah-kisah terdahulu. Dan perlu kita ingat juga, bahwa Al-Quran yang kaya akan kisah ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat tapi adalah suatu pembenaran kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatunya sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Akan tetapi ini berlaku hanya untuk orang yang benar-benar memaksimalkan potensi yang Allah berikan berupa akal. Lalu bagaimana dengan kita? Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dengan terus berusaha mengoptimalkan potensi yang Allah berikan.

Sungguh sejatinya Al-Quran ini merupakan mu’jizat yang begitu dahsyat, pedoman hidup yang patut sekali untuk kita proyeksikan dalam tiap hembusan napas kita. Melihat pemaparan di atas, sedikitnya dapat kita simpulkan bahwa: Belajarlah dari sejarah, belajarlah dari pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami, jangan sampai kita terlena dengan sesuatu kesuksesan masa lampau, jangan sampai kita di nina bobokan oleh cerita-cerita indah masa lalu, karena belajar dari sejarah berarti ada yang harus kita ambil daripadanya kemudian kita pahami, baru setelah itu kita implementasikan dalam kehidupan sesuai dengan kondisi yang ada. Jadi harus adanya tiga tahapan, yaitu input, proses dan output dengan tidak terlepas dari koridor yang Allah bataskan serta doa agar kita selalu dalam naungan-Nya.

Sejarah itu sendiri dari segi bahasa berasal dari bahasa Arab, yaitu syajaratun yang berarti pohon, artinya sebuah pohon yang terus berkembang dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks atau lebih maju. Dilihat dari asal muasal kata sejarah, yaitu syajaratun yang berarti pohon, maka untuk memahami sejarah itu sendiri perlu kita pahami dulu analogi dari pohon tersebut. Pohon yang baik adalah pohon yang memiliki akar yang teguh, batang yang menjulang ke langit dengan kokoh dan selalu memberikan buah disetiap musim atas izin Allah. Itulah kriteria pohon yang baik, ia memiliki akar, batang dan buah. Dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 24-25 Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.

Di ayat ini Allah memberikan suatu pelajaran untuk kita berupa analogi dari kalimat Thayyibah (kalimat yang baik) yaitu seperti pohon yang baik. Dengan kata lain analogi ini merupakan analogi tauhid. Dan tauhid yang baik itu tak ubahnya seperti pohon dengan 3 unsurnya, 3 unsur tersebut dalam tauhid adalah Rabb, Malik dan Illah. Atau dalam wujud kongkritnya ketika kita bertauhid haruslah berpegang teguh pada aturan Allah sebagai Rabb yaitu Al-Quran (sunnatullah), kemudian haruslah kita berada dalam suatu wilayah kerajaan Allah (Khilafah Islamiyah) di mana di dalamnya aturan Rabb itu di junjung tinggi dan selanjutnya penghuni daripada kerajaan Allah tersebut adalah manusia (masyarakat) yang bertauhid.

Maka terlihatlah oleh kita bahwasannya ketika kita belajar dari sejarah, tentunya kita mengharapkan perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang atau seperti yang di jelaskan dalam pengertian sejarah yaitu seperti pohon yang terus berkembang dari tingkat yang sederhana kepada tingkat yang lebih kompleks (lebih maju) dan untuk mencapai perkembangan yang baik inilah, sangat diperlukan paradigma tauhid yang merujuk kepada ketiga unsurnya yang telah dijelaskan di atas sebagai landasan menuju kehidupan yang lebih terarah dan di ridhoi oleh Allah SWT.

Banyak pengertian sejarah yang bisa kita dapatkan dari beberapa referensi lainnya. Namun yang perlu kita ingat, sejarah ini bukanlah sebagai dongeng pengantar tidur saja. Seperti yang telah dituliskan dalam surat Yusuf ayat 111 di atas, perlu adanya suatu analisis tentang arti pentingnya sejarah itu sendiri, perlu adanya tujuan yang jelas dan target yang positif, karena sejarah itu akan terulang, ia memiliki sirkulasi yang pada saatnya nanti putarannya akan kembali pada posisi yang mungkin telah dilewati di periode sebelumnya hanya saja agak sedikit berbeda latar dan waktu, dengan itulah kita belajar, baik dalam memahami kondisi yang ada maupun dalam menentukan sikap yang harus kita ambil dan lakukan. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari sejarah. Kemenang Islam dimasa yang lalu bukanlah berarti suatu kecukupan, sehingga tidak perlu lagi kemenangan selanjutnya. Namun ini semua adalah tanggung jawab kita semua sebagai hamba Allah dan sebagai ummat Rasulullah Muhammad untuk kembali meneruskan risalahnya yaitu mengidzharkan Dienullah.
Wallahu A’lam.

oleh Fatih Fathin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2010 in Artikel

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: