RSS

Ketika Lebarannya Berbeda (Lagi)

30 Agu

Berikut paparan bagaimana agar kita dengan bijaknya menyikapi perbedaan hari raya ‘Idul Fithri oleh Ustadz Salim A. Fillah yang dikutip dari akun twitter beliau:

Jika para pihak yang berbeda pendapat telah mengumumkan masing-masing ketetapannya terkait jatuhnya hari raya ‘Idul Fitri, maka tinggal kita sebagai ummat dan anggota masyarakat yang harus bersikap dan memilih. RasuluLlah SAW telah menuntun kita tentangnya.
“Yaumu fithrikum yaumu tufthiruun, wa yaumu adh-haakum yaumu tudhaah-huun. Hari ‘Idul Fithri kalian adalah hari {masyarakat} kalian berbuka , dan hari ‘Idul Adhha kalian adalah hari {masyarakat} kalian menyembelih hewan.”


Berdasar hadits ini; -sesudah masing-masing pihak/ORMAS dll menentukan hari ‘Id dan tak lagi dibahas beda metode dan kriteria-, maka menurut para ‘Ulama, Nabi SAW menganjurkan kita agar mengikuti masyarakat di seputaran dan tidak membeda/keukeuh menyendiri.

Dalam suatu riwayat disebutkan, berita terlihatnya Hilal di Damaskus di masa pemerintahan Mu’awiyah dibawa ke Madinah oleh utusan. Tapi si pembawa berita menemukan bahwa penduduk Madinah masih puasa bersama Mufti mereka; ‘Abdullah ibn ‘Abbas, RA. “Tidak cukupkah bagi kalian rukyat-nya Mu’awiyah?”, tanya utusan itu. “Damaskus punya mathla'”, jawab Ibn ‘Abbas, “Madinah-pun punya mathla’ sendiri.” Kata utusan itu, “Jika begitu, aku tetap mentaati Mu’awiyah, kami akan shalat ‘Id. ” Lalu Ibn ‘Abbas melarangnya seperti apa yang tertera dalam hadits tersebut. Sebab kemaslahatan dan kebersamaan wilayah diutamakan.

Demikian; untuk kita maklumi dan menenggang beda. Yang menetapkan Selasa berdasar Hisab dan kriteria Wujudul Hilal {Muhammadiyah} adalah masuk akal sebab Ijtima’ Qablal Ghurub (konjungsi sebelum terbenam mentari) yang berarti bulan sudah masuk siklus baru sehingga tidak bisa dipaksakan anggapan masih berada di bulan lama/kemarin.

Yang menetapkan Rabu dengan Hisab berkriteria Imkanur Ru’yat (ketermungkinan dilihat) juga kita fahami, sebab ianya lebih mendekati pengkompromian dengan hadits yang memerintahkanlah dilakukannya Rukyat (Shumuu liru’yatihi, wa afthiruu liru’yatih). Apatah lagi yang melaksanakan Rukyat lalu menetapkannya Selasa maupun Rabu, tentunya tak satu argumenpun yang bisa membantah; sebab Nabi SAW menerima kesaksian seorang lelaki yang datang pada beliau SAW, meski beliau sendiri dan sahabat ketika melakukan Rukyat tak melihat Hilal tersebut.

Jika ber-lebaran Rabu sesuai masyarakat sekitar yang juga Rabu, tapi sebenarnya cenderung setuju ‘Id jatuh Selasa; apakah besok masih puasa? Ada 2 pendapat dalam masalah ini;
a) tetap berpuasa, sebab ‘Id jatuh Rabu; maka kita menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari sesuai ikutan. Dalam hal ini, kita mengikut zhahir Nash; “Yaumu fithrikum yaumu tufthiruun”
b) Tidak berpuasa. Sebab tidak ada dalil yang menunjukkan Shalat ‘Id -yang hukumnya sunat- harus ditunaikan di 1 Syawal. Jadi tidak puasa, tapi Shalat ‘Id ditunda sehari kemudian, bersama yang lain.

WaLlaahu A’lam bish Shawab. Demikianlah perbedaan di kalangan Fuqaha’ telah lama terjadi; jadikanlah keluasan dan kemudahan dalam ‘amal kita.

Selamat ber-‘Idul #Fithri bersama tetangga se-LINGKUNGAN (tak perlu membeda), kerabat, & handai taulan. TaqabbalaLlahu minna wa minkum

sumber: dtjakarta.or.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Agustus 2011 in Akhlak, Muhasabah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: