RSS

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu? (Catatan ga penting buat para pembaca)

30 Okt

Ahad, 30 Oktober 2011

Bismillahirrahmannirrahiim…
Aku akan menuliskan sesuatu. Sesuatu yang selama beberapa hari kemarin belum sempat kutuangkan dalam tulisan. Dan aku tak ingin melewatkan itu dengan kesiaan tanpa menuliskannya. Sungguh, dengan menulis kita dapat mengarsipkan banyak hal. Mengabadikan peristiwa yang terjadi, memetik hikmah yang dapat di ambil, dan yang terpenting adalah berbagi pendapat, pemikiran tentang apa yang sedang terpikirkan dan yang sedang di rasakan. Jadi, menulis bukan hanya melaporkan suatu peristiwa saja, tetapi lebih banyak manfaatnya dari itu.

Aku tak tau, apakah tulisanku ini nantinya akan tersusun sesistematis mungkin sesuai urutan kejadiannya ataukah sekehendak jari-jariku menekankan tuts keyboard laptopku sebagai transfer dari apa yang sedang ingin dan akan aku pikirkan beberapa detik dan menit kedepan.

Ya sudahlah, kita mulai saja..:)

Malam tadi, aku buat status di fb bahwa aku akan berbenah diri malam itu. Kalau di timbang-timbang penting nggaknya sih ya sebenarnya ga penting2 banget statusku itu. Mungkin bagi sebagian orang juga kesannya aku sombong atau kurang kerjaan sampe update status begituan. hehe.. Tapi terserahlah apa kata orang -untuk urusan yg satu itu- aku hanya ingin berekspresi menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin selalu bertopeng. Menjadikan apa yang nampak di hadapan orang lain adalah “kesempurnaan” ku saja. Itu seolah bukan diriku! Aku juga kan manusia biasa yg pengen update status gak penting. Sekedar memberitahu apa yang sedang atau akan aku kerjakan..

Jadilah malam tadi adalah malam berbenah. Dan walhasil bukan hanya berbenah diri, berbenah lemari pakaian dan lemari buku pun jadi. hehe.. oke gak siih..??
Malam itu juga aku membuat poin-poin penting tentang apa yang harus aku lakukan ke depan, strategi jitu apa yang harus aku pakai untuk mengatasi setiap persoalan hidup yang akan datang nantinya, apa yang harus ku perbaiki dari diriku, amalan-amalan yaumiyah yang sudah lama aku tinggalkan, sampai mengagendakan untuk serius meresmikan tumpukan buku-bukuku di lemari itu menjadi buku perpustakaan pribadi yang aturannya sama seperti perpustakaan umum. Bukan apa-apanya, dalam satu minggu bukan hanya satu orang yang pinjam buku, tapi lebih dari tiga orang. Dan terus begitu setiap minggunya. Dan yang jadi masalah, kalau setiap satu orang yang mengembalikan buku ternyata dalam keadaan rusak sambil berucap “maaf ya nis, bukunya jadi begini. kemarin tu begini.. begini.. begini.. jadinya begitu.. begitu.. begitu.. Maaf ya” lalu di kalikan (minimal) tiga (untuk tiga orang peminjam), akan ada berapa buku yang mengenaskan di rak buku koleksiku itu?!

Huft.. sungguh sedih hatiku. Dan menyedihkan sekali buku-buku itu. Aku cinta sekali dengan buku. Aku membelinya dengan uangku sendiri. Merawatnya, menyampulnya, membacanya dengan apik, tapi setelah di pinjam oleh orang lain, malah pulang dengan kondisi yang tidak utuh alias tidak seperti keadaan semula aku meminjamkannya. Jadilah sekarang aku berfikir 2x untuk meminjamkan buku-bukuku. Bukannya aku pelit, malah sudah aku buktikan dari kemarin2 dan sebelum2nya, aku senang sekali meminjamkan bukuku pada teman-teman. Ya dari pada nganggur di rumah, lebih baik di baca org kan? Lagian di sini jg lagi gak di pake. Nah tapi kalau caranya seperti ini, di kembalikan dg kondisi mengenaskan, aku ga mau! Gak suka! Dan gak simpati lagi! Jadi harus gimana ya? Sampai saat ini belum di temukan nih solusi terbaiknya gimana….:(

Hmm.. cerita yang lain lagi ya..

Jujur saat ini aku sedang menikmati masa-masa lajangku. Aku bahagia dan sangat menikmati usia gadisku. Bermain dengan teman-teman perempuan yang lain, berdiskusi, jalan-jalan, ketawa-ketawa, kajian-kajian bareng, ya segala-galanya yang ceria deh. Asik soalnya masih bareng-bareng sama temen. Kalau udah nikah kan ga bisa begitu. Tapi bukan artinya aku menolak jodoh juga lho. Ya jika memang Allah mendatangkan (baca: mensegerakan) jodohku, insyaallah aku akan terima dan gak akan jadi penghalang kuliah atau yang lainnya. Cuma, yaaa berhubung lagi gak ada yang ngajak serius bener2, ya mendingan ga usah di ladenin bener2 juga. Ya gak?! hahaha..:D

Lagian akunya juga gak ngebet-ngebet banget mau nikah (untuk saat ini). Ternyata bener ya, padi semakin berisi semakin merunduk. Aku semakin tau ilmunya tentang pernikahan malah semakin merasa diri kecil, belum mampu untuk bisa melangkah ke jenjang itu. Dulu-dulu aku malah yang paling heboh pengen cepet-cepet nikah, lah sekarang jadi biasa-biasa aja karena tau repotnya gimana. Jadi manusia mah mendingan menikmati aja setiap prosesnya. Kalau masih lajang, ya nikmati aja kalau diri ini sedang lajang. Ga usah banyak ngeluhnya. Kalau udah nikah, ya nikmati dirinya dengan status sudah menikahnya itu. Allah mah gak akan membebankan sesuatu melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Yakin deh! Jadi jangan pernah putus asa dengan keadaan apapun. Yang penting ikhtiar beriring doa harus tetap terlaksana. Itu aja. Percaya gak? Harus percaya!

Mm.. ternyata perempuan itu memang udah kodrat dari sononya labil ya. Susah bener kayaknya untuk stabil kalau lagi ada masalah. Suka over tea tah..
Gak yang muda, gak yang tua. Gak yang masih gadis, gak yang udah jadi ibu2. Tetep weh… labil.. -_-”
Yang bisa menilai sebenar-benarnya itu adalah orang yang sedang tidak tercebur dengan masalah itu. Kemarin nih, ngeliat perempuan yang lagi ada problem di kehidupan rumah tangganya. Itu sampe nyanyi-nyanyi ga jelas gitu. Padahal dia biasanya bukan tipe orang yang seneng nyanyi. Terus jadi yang cereweeeettt banget. Padahal biasanya dia gak begitu. Senyumnya lebaaarr banget, ih lebay. Tapi emang bener, semua yang dia lakuin itu sebenanya ekspresi dari ketertekanannya atas problem tersebut. Walau luapan emosinya tidak dia salurkan dengan marah-marah, tapi tetep aja terlihat aneh. Soalnya kan beda dari biasa-biasanya. Over gitu jadinya. Semua serba over. Ckckck.. kitu geuning nya awewe teh. Abdi ge kitu mereun…:D

Kalau sepintas aja diperhatiin, gak pantes sebenernya ibu2 begitu. Labilnya keliatan banget. Aku aja yang masih gadis tau harusnya bersikap yang baik tu yg kayak mana. Tapi mungkin karena dia lagi ada problem, jadi samar deh. Terlalu kalut, bingung, serba salah, sikap kesel dan biasa-biasa aja menjadi satu. Akhirnya lahirlah sikap gak jelas. Haduuhh… cape deh. Perempuan aja pusing ngeliat sesama perempuannya kalau dia lagi ada something problem, jadi buat laki-laki, jangan heran ya. Biasa aja…. kan biasanya laki-laki bisa lebih stabil. Maklumi sajalah kalau kita-kita sedang begitu!😀

Hmm.. lanjut ke point hikmah selanjutnya, pada dasarnya setiap mukmin yang bersungguh-sungguh itu mencari jalan menuju surga (baca: keridhaan Allah) dengan cara bersungguh-sungguh pula. Seriuuuusss.. gitu kelihatannya dia mengkaji islam dan meyakini cara yang dia yakini. Kuat dengan manhaj yang dia yakini saat itu. Gak salah memang, tapi yang perlu diperhatikan baik-baik jangan sampai fanatisme kita terhadap golongan (baca: harokah, atau manhaj, atau jama’ah) mengaburkan pandangan kita terhadap kebenaran yang sesungguhnya. Contoh nya aja, ada tu orang yang kalau udah pegang madzhab syafi’i, gak mau pake fiqihnya madzhab lain. Padahalkan gak gitu juga. Itu mah cara aja. Sekedar jalan.. biarlah berbeda. Yang gak boleh beda itu aqidahnya. Kalau aqidahnya udah beda, nah itu dia yang bahaya.

Ya Allah… kami hamba-hamba-Mu yang berlari, bersegera menuju keridhaan-Mu, bersungguh-sungguh dengan apa yang kami yakini saat ini..
dengan ilmu yang kami ketahui saat ini..
terimalah amal ibadah kami..
lihatlah niat kami..
karena kebenaran dan kehaqiqian hanyalah milik-Mu,
hanyalah Engkau yang mengetahuinya..

Tunjukilah kami jalan lurus-Mu
yang sebenaranya..
yang satu..
bukan berpecah belah menjadi beberapa simpul seperti sekarang ini..
Namun jika memang itu fitrah dari ketetapan-Mu akan ummat ini,
tetapkanlah kami selalu pada jalan-Mu yang benar
benar menurut pandangan-Mu.
bukan dalam pandangan manusia..

Perbedaan ini hanya untuk menguji
mana yang sabar, dan mana yang tidak taat

Wajar jika setiap orang merasa bahwa dirinyalah yang berada pada jalan kebenaran. Apa yang sedang dia yakini saat itu. Dan tentu saja hasil studi keilmuan yang mendalam yang telah ia lalui. Tapi tetap berhati-hatilah kawan.. kebenaran itu mungkin saja datang melalui lawan debat dan diskusimu. Jika itu kebenaran yang datang dari Allah, diamlah sejenak. Tutup mulutmu, dan merenunglah walau sesaat. Terimalah kebenaran itu dengan hatimu, bukan dengan jiwa manusiamu sebagai seorang yang menduduki kursi. Aku yakin, kita sudah tau teorinya. Bahwa kebenaran itu mungkin saja datang dari mulut para pembunuh sekalipun. Tapi ketika dihadapkan pada lapangan, ternyata ego itu masih hadir. Dan menepis hati untuk menerimanya. Masyaallah… miris ya..

Dan hikmahnya lagi, kita jangan selalu merasa bahwa kitalah yang paling benar. Mengkritik orang lain begitu.. begitu.. padahal tanpa disadari justru kita pun begitu.. begitu. Na’udzubillah. Kan orang lain yang ngedengernya atau yang menerima kritikan tadi jadi lucu sendiri ngedengernya. Ckckck..

Penutup-
Udah ah, segitu aja dulu ya cerita dan tulisannya. Maaf dan maaaafff banget kalau para pembaca bingung bacanya. Atau malah jadi pusing kepalanya karena abis baca tulisan ini. hehe..
Ini lagi pengen menulis bebas aja. Tanpa edited.
Jadi, yaaa.. maklumi saja!😀

ini seperti bersin yang melegakan. rasanya tuntas kalau sudah di tuliskan semunya. ok deh..
mari kita bersama-sama tutup dengan membaca hamdalah.
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin..

silahkan, anak-anak, boleh pulang!
*lho?

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2011 in Coretan

 

4 responses to “Ini Ceritaku, Mana Ceritamu? (Catatan ga penting buat para pembaca)

  1. eda82

    4 November 2011 at 20:37

    Wkwkwkwk… Setelah baca tulisanmu,aq sempet merenung &berpikir sejenak lalu aq tertawa, tapi maaf aq bukan menertawakan kamu tapi aq menertawakan diri aq sendiri,lho koq mirip bgt sih ma aktivitasqu sehari-hari..,mksud aq cara bikin status di efBe yg gk penting-penting bgt, beresin kamar or hanya sekedar rapih-rapih,buku-buku yg di pinjem temen,tapi pas balik kandang lagi bukunya pada rusak,,
    hahahaha.. Tpi aq suka oret-oretan kamu Nis,
    salam kenal ya from Eda anak curug tangerang.

     
  2. Justin punuhotu

    18 November 2011 at 03:38

    lihat perbezaan sejauh mana anda akan mampu pusing dengan memegang stiker kepada yang berminat untuk mendapatkan produk ini dan mencubanya , sila buat tempahan.

     
  3. zak

    20 November 2011 at 06:43

    adakah artikel di blog ini yang berkisah tentang musik?

     
  4. bluedolphinceny

    19 Februari 2012 at 14:53

    salam kenal mba. Al-khansa itu kan bunda yang pandai bersyair ya.sahabat rasulullah…bagus tulisannya ga cuma curhat,bisa membuatku merenung juga

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: